Bertuturlah cinta
Mengucap satu nama
seindah kurasa
sedang dalam ingatanku
Cinta yang bertasbih
Meletus hati ini
Kusandarkan hidup matiku padaMu
Bisikan doaku
Dalam ukiran tasbih
Kupanjatkan cintaku padaMu maha cinta
Sudah diubun-ubun cinta mengusik rasa
Tak bisa ku paksa walau hatiku menjerit
Ketika cinta bertasbih
Nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku
Merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud syukurku padaMu
Atas segala cinta
..................................................
.......................
Bisikan doaku dalam butiran tasbih
Kupanjatkan cintaku padaMu Maha cinta
Sudah diubun-ubun cinta mengusik rasa
Tak bisa ku paksa walau hatiku menjerit
Ketika cinta bertasbih
Nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku
Merangkai butir cinta
Garisan nan tergambar
Tak bisa aku menentang
Sujud syukur padaMu atas segala cinta
CINTA
........................................................
..............................
Ketika cinta bertasbih
Nadiku berdenyut laju
Kembang kempis dadaku
Merangkai butir cinta
Garisan nan tergambar
Tak bisa aku menentang
Sujud syukur padaMu atas segala cinta
.............................................................................................................
Garisan nan tergambar
Tak bisa aku menentang
Sujud syukur padaMu atas segala cinta
KETIKA CINTA BERTASBIH.....
::MUTIARA HATI:: bicara buat diri-diri yang mendambakan kasih, keredhaan dan kebaikkan di dunia dan akhirat dariNya,... ::rindukan pertemuan denganNya ::
Tuesday, October 6, 2009
::NUR KASIH::
Monday, September 14, 2009
::selamat hari raya::
“Ketahuilah bahawa dalam setiap jasad itu ada seketul daging yang apabila ia baik maka baiklah
seluruh jasad dan apabila ia rosak, maka rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah ia adalah hati.”(Hadith
ke-6, Hadith 40 An-Nawawi)

Nun,di sebuah hutan belantara tumbuhlah sebatang pohon yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jutaan pohon yang lainnya. Ia memiliki batang yang sangat lurus dan tegak, akarnya yang kukuh, serta aroma khasnya yang harum, semerbak, memenuhi seluruh isi hutan. Sehingga tidaklah menjadi hairan, ramai sekali para pencari kayu bakar yang merasa tertarik kepada pohon itu. Bahkan ramai yang berniat baik untuk turut memelihara keindahan pohon itu. Dengan senang hati mereka membiarkan pohon tersebut tetap tumbuh.
Namun, demikianlah kudrat keberadaan setiap makhluk yang hidup dan tumbuh di atas muka bumi ini, tak satupun yang abadi! Tak terkecuali dengan keadaan pohon cantik yang disanjung para pencari kayu bakar dan seluruh penghuni hutan. Pada suatu petang, ketika langit mulai gelap, angin pun kencang berhembus. Pucuk pohon cantik bergoyang dengan hebatnya. Ia sekuat tenaga mengimbangi keadaan yang mana pada bila-bila masa boleh menumbangkannya. Sang Pucuk terus bergerak, awalnya hanya berniat untuk mempertahankan diri dari keadaan alam yang ia hadapi. Tetapi lama-kelamaan ia sedar, bahwa sebenarnya ia dapat mengatasi sepenuhnya serangan angin tersebut. Ia yakin benar telah ditampung oleh akar yang kuat, dan dahan-dahan yang kukuh, serta dedaunan yang dapat menahan laju dan kencangnya angin dengan sempurna. Kerana keyakinannya itulah tiba-tiba ia membuat sebuah gerakan yang tidak disangka-sangka oleh Sang Akar, yang sekuat tenaga mencengkam tanah.
'Perumpamaan orang beriman yang berkasih sayang, dan saling rahmat merahmati dan di dalam kemesraan sesama mereka adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota mengadu sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasainya.'
p/s: apa kaitan ngan ramadhan n raya ya?... fikir2 kan.... =)
Saturday, September 5, 2009
::ilmu itu seperti hujan::

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو عَامِرٍ الْأَشْعَرِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَاللَّفْظُ لِأَبِي عَامِرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Disebutkan dalam shahih Al Bukhari dan Muslim hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiallohu ‘anhu yang berkata, bahwa Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diutus Alloh kepada ku seperti hujan yang membasahi bumi. Ada bumi yang subur yang menerima air kemudian menumbuhkan rumput yang banyak. Ada bumi yang keras yang menahan air kemudian dengannya Alloh memberi manfaat kepada manusia. Mereka meminum dari air tersebut, memberi minum hewan ternaknya, dan bercocok tanam. Hujan juga membasahi bumi yang lain, yaitu lembah yang tidak mampu menahan air dan menumbuhkan rumput.
Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Alloh kemudian mendapat manfaat dari apa yang aku diutus dengannya. Ia belajar dan mengajar. Dan itulah perumpamaan orang yang tidak bisa diangkat kedudukannya oleh petunjuk Alloh, dan tidak menerima petunjuk Alloh yang aku di utus dengannya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim)
Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam mengumpamakan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti air hujan, karena masing-masing dari ketiganya (ilmu, petujuk, dan hujan) mendatangkan kehidupan, makanan, obat-obatan, dan seluruh kebutuhan manusia yang lain.
Semua itu didapatkan dengan ilmu dan hujan.Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam mengumpamakan hati manusia seperti tanah yang mendapatkan siraman air hujan, Karena tanah adalah tempat yang menahan air hujan kemudian menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat, sebagaimana hati yang memahami ilmu, maka ilmu tersebut berbuah didalamnya, berkembang, terlihat keberkahannya dan buahnya.Kemudian Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam mengelompokkan manusia dalam tiga kelompok sesuai dengan peneriaman mereka, dan kesiapan mereka menghafal ilmu, memahami makna-maknanya, mengeluarkan hukum-hukumnya , hikmah-hikmahnya dan manfaat-manfaatnya;
Pertama, orang yang mampu menghafal ilmu dan memahaminya. Mereka memahami makna-maknanya, mengeluarkan hukum-hukumnya , hikmah-hikmahnya dan manfaat-manfaatnya. Mereka seperti tanah yang menerima air kemudian menumbuhkan rumput yang banyak. Pemahananya terhadap agama, dan istimbath hukum adalah seperti tumbuhnya rumput dengan air.
Kedua, orang yang mampu menghafal ilmu, menjaganya, menyebarkannya, dan mengendalikannya, namun tidak mampu memahami makna-maknanya mengeluarkan hukum-hukumnya , hikmah-hikmahnya dan manfaat-manfaat dari ilmunya tersebut. Mereka seperti orang yang manpu membaca Al Qur’an, menghafalnya, memperhatikan makhrojul huruf (tempat keluarnya huruf), dan harkat-nya, namun tidak dianugrahkan pemahaman yang khusus oleh Alloh, seperti dikatakan Ali Radhiallohu ‘anhu, “Kecuali pemahaman yang diberikan Alloh kepada hamba-Nya di dalam kitab-Nya.”Tingkatan pemahaman manusia tentang Alloh Ta’ala , dan Rasul-Nya itu tidak sama. Terkadang ada orang cuma mampu memahami satu atau dua hukum dari satu dalail, sedangkan orang lain mampu memahami seratus atau duaratus hukum dari dalil yang sama.Mereka seperti tanah yang mampu menahan (menyimpan) air untuk manusia kemudian mereka mendapat manfaat darinya. Ada yang minum dari padanya, memberi minum hewan ternaknya, dan bercocok tanam dengannya.
Kedua kelompok diatas adalah kelompok orang-orang yang berbahagia. Kelompok pertama adalah kelompok yang paling tinggi derajatnya dan kebesarannya dari seluruh kelompok-kelompok manusia yang ada. Alloh Ta’ala berfirman,“Itulah karunia Alloh yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh mempunyai karunia yang sangat besar.” (Al Jumu’ah: 4)
Ketiga, orang-orang yang tidak mendapatkan sedikit pun ilmu; baik hafalan atau pemahaman, atau periwayatan. Mereka seperti tanah lembah yang tidak bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menahan (menyimpan) air. Mereka adalah kelompok orang-orang celaka.Kelompok pertama dan kelompok kedua mempunyai ilmu dan mengajarkannya sesuai dengan ilmu yang diterimanya dan sampai padanya, sedang kelompok pertama mengajarkan makna-makna Al Qur’an, hukum-hukumnya, dan ilmu-ilmunya.Sedang kelompok ketiga, mereka tidak mempnyai ilmu apalagi mengajarkannya, mereka tidak bisa “diangkat” dengan petunjuk Alloh, dan tidak menerimanya.
Mereka lebih sesat dari hewan ternak, dan mereka adalah bahan bakar neraka.Hadits mulia diatas memuat kemulian ilmu, pengajarannya, posisinya, dan kecelakaan orang yang tidak mempunyai ilmu.Hadits diatas juga mengklasifikasi manusia menurut barometer ilmu ke dalam dua kelompok; kelompok orang-orang celaka dan kelompok orang-orang bahagia, dan mengklasifikasi kelompok orang-orang bahagia ke dalam dua kelompok; kelompok pemenang yang didekatkan kepada Alloh dan kelompok kanan yang pertengahan.Ini menjadi bukti, bahwa kebutuhan manusia kepada ilmu itu seperti kebutuhan mereka kepada hujan, bahkan lebih besar lagi. Jika mereka tidak memiliki ilmu, mereka tak ubahnya seperti tanah yang tidak mendapatkan hujan.

Imam Ahmad berkata. “Kebutuhan manusia terhadap ilmu itu lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman, Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali dalam satu hari, sedangkan ilmu itu dibutuhkan sebanyak jumlah nafas.”Alloh Ta’ala berfirman,“Alloh telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Alloh membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil.” (Ar Ra’du: 17)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengumpamakan ilmu yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya seperti air yang Dia turunkan dari langit, karena masing-masing dari ilmu dan air hujan mendatangkan kehidupan dan kemaslahatan bagi manusia di dunia dan akhirat mereka.Alloh Ta’ala juga mengumpamakan hati manuia seperti lembah. Hati yang besar yang mampu menampung ilmu yang banyak adalah seperti lembah besar yang mampu menampung air yang banyak, dan hati yang kecil yang hanya mampu menampung ilmu yang sedikit adalah seperti lembah kecil yang hanya mampu menampung air yang sedikit.
Alloh Ta’ala berfirman, “Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang.” Itulah perumpamaan yang dibuat Alloh Ta’ala tentang ilmu, bahwa jika ilmu itu telah bercampur dengan hati, maka ilmu mengeluarkan buih syubhat yang batil dari hati kemudian buih syubhat mengapung di permukaan hati, sebagaimana arus di lembah mengeluarkan buih yang mengapung di atas permukaan air.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, bahwa buih itu mengapung, berada di atas permukaan air, dan tidak menenpel kuat di tanah lembah. Dekian juga syubhat-syubhat yang batil. Jika ia telah diusir oleh ilmu dari dalam hati, ia pun mengapung dipermukaan hati, tidak menetap didalamnya, bahkan kemudian pada tahap berikutnya terbuang, dan yang menetap didalam hati ialah apa yang bermanfaat bagi pemiliknya dan manusia secara umum, yaitu petunjuk dan agama yang benar, sebagaimana yang menetap di dalam lembah ialah air murni, sedang buihnya musnah karena tidak ada harganya.
Tidak ada yang memahami perumpamaan-perumpamaan Alloh Ta’ala kecuali orang-orang yang berilmu.Alloh Ta’ala membuat perumpamaan yang lain dengan berfirman, “Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.” Maksudnya, bahwa jika manusia membakar benda-benda padat seperti emas, perak, tembaga, dan besi, maka benda-benda tersebut mengeluarkan kotoran dalam bentuk buih yang sebelumnya menyatu dengannya. Buih kotoran tersebut dibuang dan dikeluarkan, sedang yang tersisa adalah perhiasan asli saja.Alloh Subhanahu wa Ta’ala membuat perumpamaan berupa air, karena ia memberi kehidupan, mendinginkan (menyegarkan), dan mengandung manfaat-manfaat yang banyak sekali.
Alloh Ta’ala juga membuat perumpamaan berupa api, kerena api mengandung cahaya, dan membakar apa saja yang tidak bermanfaat. Jadi ayat-ayat Al Qur’an itu menghidupkan hati sebagaimana tanah dihidupkan dengan air. Ayat-ayat Al Qur’an kotoran-kotoran hati, syubhat-syubhatnya, syahwat-syahwatnya, dan dendam kesumatnya sebagaimana api membakar apa saja yang dimasukkan kedalamnya, selain itu ayat-ayat Al Qur’an juga membedakan mana yang baik dari yang buruk sebagaimana api membedakan mana yang buruk dan mana yang baik yang ada pada emas, perak, tembaga, dan lain sebagainya.Inilah sebagaimana ibrah dan ilmu yang ada dalam perumpamaan yang agung di atas.
Alloh Ta’ala berfirman,“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahami kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al Ankabut: 43)
Sumber: Buah Ilmu, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Pustaka Azzam, hal 36-40
Alhamdulillah ya Allah... atas kurniaan dan anugerah yang telah engkau berikan... moga diri ini dan kalian juga berada dibawah lembayungnya...
Nak cari apa?
yang selalu duk click
-
Sebelum ini, banyak yang saya dapat tahu dari orang lain (lisan @ pembacaan), tentang bahayanya air pepsi, coca cola, 100plus dan segala m...
-
Setibanya aku dari kampung halaman (23/6-28/6) ke sempadan kedah-penang, aku mendapat berita dari ayah mi yang menyatakan ayah za'im sak...
-
09 10 2009 Buku baru ke 23 Beberapa perancangan : Menetap di mana2 tempat yang ada terbiyah yang konsisten .1 Dapatkan kerja tetap .2 Baitul...
-
"Pagi dah menjelma, bersinar suria... hari pun cerah Burung-burung pula terbang sini sana, menyanyi riang... Bila hari petang, burung...
-
—–Wahai Puteriku —- يا ابنتي Oleh: Ali Ath-Thanthawi Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah ...
-
SALAM RAMADHAN... Alhamdulillah da masuk hari ke4 kita berpuasa, apa perkembangan amal n kebajikan anda? sedikit perkongsian... SOLAT TAHAJJ...
-
Surah Takathur diceritakan di dalam Al-Quran di dalam dua bentuk, iaitu amwaal dan/atau awlaad. Kedua-duanya bermaksud kelalaian dari mengin...
-
SEJARAH TINGKATAN DUA Ternyata perjuangan berabad lamanya orang Melayu bermula sejak kejatuhan Kerajaan Melaka, orang Melayu bersama sult...
-
Ketenangan itu dicapai melalui zikrullah. Namun zikrullah yang bagaimana dapat memberi kesan dan impak kepada hati? Ramai yang berzikir te...
::wanita::
DUHAI PUTERIKU.........
Keremajaanmu menyegarkan pandangan,
melimpahkan nyaman pada malam..
Cahaya keriangan di wajahmu adalah kilauan senjata yang menawan....
Madu yang menitiskan sarinya meresapkan manisnya dari bibir langsung ke hati adalah suara-suara lembut sang gadis...
Tertib dan sopanmu bagai hembusan angin yang menyamankan....
PUTERIKU.....
Dengan keremajaanmu...
kau bisa menakluk dunia dalam lalai dan leka
Tanpa kesedaran ....
DUHAI PUTERIKU....
Balikkanlah cermin di hadapanmu barang seketika ...
palingkanlah wajahmu barang sejenak...
Berkatalah dalam diri...
Kau bukan dilahirkan sebgai penggoda yang melekakan dunia...
Kesegaran dan kejelitaanmu adalah fana belaka..
Balutan gemerlap permata intan hanyalah hiasan...
Dongak dan lihatlah kerdipan bintang-bintang nun di langit...
Sedarlah...hidupmu ini hanya cebisan dari erti kehidupan...
Selamilah dasar hatimu dan bisiklah pada diri
Alangkah hinanya roh kita tanpa hiasan apa-apa...
PUTERIKU...
Berfikirlah untuk menjadi insan yang berguna agar seisi dunia merasakan rahmat kehadiranmu...
WAHAI PUTERI MUSLIMAH SEJATI ...
Salutilah tubuhmu dengan iman...
kerana ia sangat manis pada pandangan jua perhiasan...
Usah merasa resah lalu menyolek diri ...
inginkan wajah yang lebih indah...
Bersyukur dan berbahagialah dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT...
DUHAI MUSLIMAH TERPUJI...
Renung dan resaplah kekaguman serta kekuatan keyakinan bahawa hayatmu setiap detik di bawah naungan Allah SWT...
Kecintaan Ilahi melimpah dan melaut di segenap penjuru alam walaupun pada yang alpa erti kehidupan...
GADISKU...
Bersihkanlah hatimu...
kemanisan iman sukar dikecapi tanpa janji Tuhan...
Jannah itu bukan mimpi tapi realiti...
Dunia hanyalah persinggahan...
akhirat itu kekal abadi....